“Radikalisme Dalam Islam” {Studi Pemikiran Justifikasi Agama Sebagai Pembenaran Tindakan} Kajian Mingguan IMABA Surabaya 28-04-11

Istilah Tentang Radikal
Definisi radikalisme adalah suatu kelompok ekstrim yang menghendaki kebangkitan islam modern. Karena radikalisme islam disini berdasarkan dua alas an : pertama,merupakan fenomena ideologis, yang pendekatannya melalui pemusatan makna ideologis, dan mengesampinkan konteks social. Bardasarkan ini, radikalisme islam adalah ideology islam radikal. Kedua, menunjukkan karakteristik tertentu dari sejumlah doktrin, kelompok dan gerakan.
Dan tulisan ini hanya dipakai untuk mereka yang membenarkan tindakan kekerasan atas nama agama. Kolompok ini menganggap dirinya benar dan mereka yang tidak sama diklaim salah. Kolompok radikalisme biasanya sangat dekat dengan literalis { kaum wahabi}, sehingga radikalisme islam juga disebut dengan wahabi radikal , akan tetapi juga perlu diketahui bahwa radikalisme tidak hanya dimiliki satu golongan tapi golongan yang lain.
Kilas Balik Radikalisme Kristen
Kekerasan terhadap agama sebenarnya sudah berlangsung sejak lama,misalnya perang salib karna peristiwa dimana doktrin-doktrin suci dapat terkploitasi dengan maksimal dan selalu mengilhami setiap perang suci yang terjadi di kemudian hari. Banyak korban berjatuhan dua Abad itu hingga banyak cerita-cerita berkembangnya perang salib mulai dari kenegaraan sampai pada kepahlawanan yang muncul baik dibarat ataupun ditimur.ia menjadi hirroh{ semagat} tersendiri pada masa itu sampai sekarang ini.
Era moderenitas di barat biasa dikenal dengan dimualinya inkuisisi terhadap orang-orang muslim dan yahudi pasca penaklukan muslim Eropa di Granada pada 1492 yang dianggap pembersihan Eropa dari “Najis” orang islam menurut punggawa kerajaan Kristen, pada tahun yang sama Cristopher Colombus {Kristen keturunan yahudi} berlayar menyebrangi atlantik menuju india, tapi tidak sengaja menemukan benua Amerika. Tujuan colombus ke india hanya untuk membangun basis Kristen dalam melancarkan perang salib jilid II.
Pada tahun 1453 saat turki utsmani menaklukkan yerussalaem. Nampaklah islam sebagai moster yang jahat bagi kalangan barat, bukan hanya sebagai yang jahat tapi sebagai kejahatan itu sendiri. { Armstrong. 2003.}. pada abad 16 tepatnya pada 17 mei 1498. Vasco Da Gama,{portugis} terinspirasi oleh keinginan colombus akan basis Kristen di india demi pelancaran perang salib gaya baru melewati timur jauh akhirnya bisa sampai di india dan menciptakan koloni disana, dan ini sangat menjadi pukulan bagi orang islam ketimbang perang salib lama karena hal ini menandai superioritas barat atas timur { islam} . dominasi barat atas negeri Non-Eropa. Dunia timur menjadi bangsa yang benar-benar tidak berday menghadapi barat yang memiliki kekuatan yang jauh berlipat ganda ketimbang abad 10,11 dan 12. Abad 15 eropa menjadi modern memiliki armada laut yang kuat dan persenjataan yang canggih. Ini suatu hal yang tidak bisa dibayangkan masyarakat timur barat sebagai bangs akelas dua. Timur tercengang dan tidak siap untuk menghadapinya. Bahkan dinasti turki utsmani yang dimiliki timur tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi bangsa timur dari penakluk barat, ia terlalu sibuk dengan kondisi kerajaan yang keropos dan penuh dengan korupsi. Oleh karenanya, mereka hanya melawan secara sporadic dan hanya terkordir secara local dan bukan dilakukan secara simultan sebagai satu-kesatuan umat islam. Hal ini diperparah oleh kejumudan timur yang menolak rasionalisme. Pelarangan filsafat dan rasionalisme ini dipelopori oleh al-Ghazali {hujjah al-Islam}.
Universalisme Dan Tafsir Hegemoni
Atas nama kebebasan, lembaga-lembaga yang berada di naungan PBB-pum mengusung sebuah ajaran yang disebut universalisme global sebagai keniscayaan sebuah masa, akan tetapi sebagian orang menyebutkan paham ini disebut sebagai penjajahan paham baru.{ Samuel.2002.336}. seperti tampak pada pendapat kalim siddiqui bahwa universalitas bagi barat adalah imperialisme bagi timur. Kebebasan individual, rasionalisme adalah bentuk lain imoralitas, buruh dalam jaringan kapitaslisme adalah bentuk lain dari perbudakan, Negara bangsa adalah bentuk lain dari tribalisme. the super power AS dalam menyikapi persoalan dunia menjadi hujjah akan ketidak tulusannya menegakkan demokrasi secara ansich. Ia kerap ditudh sebagi bukti arogansi AS atas dunia. Banyak apa yang dipropogandakan secara ide dan konsep, pada tataran lapangan malah bertentangan. Saudi Arabia yang jelas otoriter menjadi kawannya sedangkan Iran yang menerapkan demokrasi melah disebut Negara setan, oleh karenanya banyak warganya yang kecewa yang hanya bergantung pada barat.
Menghadapi kenyataan ini, umat islam terbagi menjadi beberapa sikap. 1. Mereka yang merindukan keemasan. 2. Mereka yang langsung mencoba meniru barat.3. mereka yang mencoba mempelajari barat tapi tetap melestarikan tradisinya. Dan kelompok yang ketiga ini banyak dipilih oleh Negara muslim saat ini.
Sistem Negara bangsa
Pemimpin dan pemikir menyepakati bahwa bentuk Negara bangsa adalah bentuk final terbaik yang telah dicapai oleh peradaban manusia. Masing-masing bangsa memiliki teoriti sendiri dan Negara bangsa sepakat untuk saling menghormati untuk tidak melanggar teoritinya, merujuk keindonesia. System Negara Indonesia adalah bentuk terbaik yang bisa dihasilkan anak negeri. Para ulama’ sepakat bahwa pemimpin Indonesia disebut waliy al-amri dan Negara Kesatuan Repoblik Indonesia disebut as-salam{damai}.
Terma-Terma Radikalisme Dan Tindakan Terorisme
1. Mereka menyebut Negara Indonesia sebagai Negara kafir, karena tidak menerapkan hokum islam sesuai dengan ayat “ومن لم يحكم بما انزل الله فا لئك هم الكا فرون”
2. Mereka menyebut pemimpin Indonesia sebagai toghut. Sebutan thogut digunakan bagi penguasa yang tidak menerapkan hokum islam. Oleh karena Negara dan penguasanya tidak diakui maka merasa berhak untuk melakukan tindakan sendiri atas nama agama.
3. Mereka menyebut di Indonesia kafir harbi dan wajib diperangi.
Dari itulah kemudian mereka melakukan tindakan-tindakan kontra produktif dengan visi dan misi islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. Mereka menanamkan sebagai jihad.
Penutup
Hal paling penting dalam setiap perjuangan kita adalah sebagaimana kaidah yang kita kenal sejak kita masih di pesantren yaitu “ dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih” menjauhi kemafsadatan itu didahulukan atas menegakkan kebaikan. Jika keinginan menegakkan syariat islam kemudian ditempuh dengan cara-cara yang meninggalkan kemafsadatan maka itu sudah menyalati kaidah ushuliyah kita. Apalagi kita tahu bahwa beribadah itu tidak harus dipaksakan tapi berdasarkan kemampuan kita dan dalam batas-batas meslahtil ummah. Sengaja di makalah ini saya tidak bercara tentang kontroversi penegakan syariah isalm karena hal tersebut membutuhkan waktu tersendiri untuk membicarikan.
[read more...]


suasana khotmil-Qur'an sebagai planing kerja imaba(Ikatan Maha siswa Bata-Bata)yang mana program ini merupakan program bulanan, yang dengan kinerja arek-arek imaba bisa melaksanakan program tersebut meski dalam keadaan bingung dalam kebingungan(banyak tugas tentunya), dalam program ini sebenarnya biasa dilaksanakan di hari jum'at legi, berhubung juma'at legi kemaren lagi berbenturan dengan program tahunan, yaitu maulid nabi muhammad SAW, maka dengan kesepakatan tretan-tretan imaba surabaya lebih mengutamakan maulid Nabi SAW. karna pada waktu itu bertepatan hari terakhir bulan tersebut, dan untuk khotmil qurannya di undur pada hari kamis 17-03-2011 al-hamdulillah acara khotmil qurannya berjalan dengan sukses,lancar,aman dan tentram, karena tretan-tretan IMABA surabya hadir semua walaupun cuman sekedar berpartisipasi saja,dan yang terakhir semoga program ini menjadi prgram yang tiada lelah dalam mengaplikasikanya,... dengan niatan yang ikhlas insyaallah........!!!salam dari tretan2 IMABA do'anya pada semuanya.
[read more...]

Merpati - Merpati Pesantren

Oleh Sihabuddin
Lantunan ayat-ayat suci mengingatkanku bahwa waktu akan segera berganti, warna jingga di ufuk barat semakin tampak setelah dikumandangkannya suara adzan. Aku dan kawananku tak peduli dengan semua itu, kami masih asyik-asyik saja menikmati indahnya sore sambil mengitari seluruh bangunan yang kata ibu sudah tidak bisa dipisahkan dengan kami. Ku lihat ibu dan gerombolannya terus mengitari bangunan-bangunan yang bermacam-macam bentuknya. Kadang, ibu dan gerombolannya hinggap pada kabel listrik yang jumlahnya makin pesat karena makin dibutuhkannya penerang yang ditemukan oleh Thomas Alva Edison .
“Ayo terbanglah” kata ibu sambil mengajakku terbang . ya.... sebagai bangsa Aves memang sepantasnya aku harus cepat bisa terbang agar aku bisa menggepakkan sayapku kemanapun aku suka.
“Nak pulanglah, waktu sudah petang” ibu mengajakku pulang dengan melewati bangunan-bangunan yang berjajar rapi, aku mengikuti dibelakanngnya. Mendung yang sejak tadi sore, sekarang sudah berubah nenjadi hujan lebat memaksaku untuk tidak keluar rumahku yang ada di atas triplek-triplek bangunan mereka. Ribuan anak manusia yang biasanya memadati salah satu tempat suci sekarang jumlah hanya ratusan saja. Mereka lebih suka berdiam diri dalam kamar meskipun perkumpulan yang biasa mereka lakukan tiap malam setelah sholat maghrib kecuali pada malam jumat dan malam selasa adalah kegiatan wajib pesantren. Hujanpun reda, ribuan anak manusia yang sejak dari tadi berdiam dalam kamar masing-masing langsung berhamburan keluar menuju musholla untuk mengikuti kajian kitab kuning.
©©©©©
“Nak....., terbanglah , kau harus segera bisa terbang, usiamu sebentar lagi sudah bukan anak-anak lagi” begitulah ibu selalu menyuruhku untuk terbang akupun terbang mengikutunya. kami terbang sepuasnya, kadang kami keatas, menukik lalu terbang lagi ke atas.
“Ayo..... salib ibu nak” dengan sekuat tenaga aku berusaha mengejar ibu, ibupun semakin cepat terbangnya, ternyata usiaku tidak sia-sia aku sudah bisa menyalip ibu. Kami berhenti sejenak diatas pohon mahoni, lalu ibu menatapku dengan tatapan bangga.
“Bagus nak, kau sekarang sudah bisa mengalahkan ibu”
“Kenapa bu, kita sebagai bangsa merpati harus bisa terbang dengan cepat?”
“Kadang bahaya datang dengan tidak disangka-sangka “
“Bahaya apa bu...?, bukankah ibu pernah bercerita tempat ini adalah tempat yang paling aman dan paling menyenangkan buat kita!!”
“Kamu betul nak, nantinya kamu akan mengerti sendiri”
Lalu ibu terbang lagi menuju arah utara kumengikuti dibelakangnya . kulihat pemandangan yang sangat kontras sekali dengan di daerah selatan, tempat yang asri, kulihat begitu banyak taman-taman yang dirawat dengan baik, tempat-tempat yang selalu bersih, di pinggir sungaipun terlihat sangat bersih.Bahkan, penghuninyapun beda dengan di daerah selatan.
“Bu.......ini tempat apa bu kok beda dengan di selatan?”
“Ini pondok khusus putri”
“Kalau yang di selatan itu pondok apa bu?”
“Itu pondok khusus putra”
“Mengapa antara putra dan putri dipisahkan bu?”
“Ya memang begitulah dalam agama Islam, antara laki-laki dan perempuan harus dipisahkan kecuali ada ikatan muhrim”
“Tapi, kenapa kita berbaur antara laki-laki dan perempuan”
“Itu hanya untuk bangsa manusia saja” aku mengangguk meski tidak mengerti.
Semakin hari, pertumbuhan pesantren makin pesat. Namun itu tidak mengganggu keadaan kami yang bebas terbang kesana-kemari, malahan itu semakin memberi ruang pada kami untuk bebas terbang. Meski kami sering mendapat sumpah serapah karena kotoran kami mengenai tubuh mereka. Kami cuek saja dengan sumpah serapah mereka, karna itu salah mereka juga yang lewat di bawah kami.
®®®®®®
Malam yang begitu sunyi, yang terdengar hanyalah arus sungai yang berwarna kecokelatan karena di siang harinya pesantren ini diguyur hujan lebat.
“Bu apa itu!!!” kulihat sebuah hewan mirip kucing yang merangkak di atas pohon mangga terus melompat di atap sebuah bangunan.
“Sudahlah jangan rame, dia itu musang, dia yang sering memangsa merpati-merpati indah penghuni pondok ini, pokoknya jangan mengeluarkan suara sedikitpun” kata ibu dengan suara berbisik, kami berdua diam seperti patung. Krrrrrretekkk!!!, sial bener nasib kami berdua, kayu yang kami tempati patah karena sudah lapuk. Musang itu melihat kami berdua. Kulihat ibu panik sekali, aku didekapnya seerat mungkin. Keadaan makin gawat!!! Musang itu semakin mendekati kami, ibu semakin bingung dengan kenyataan ini. Musang itu mulai menunjukan taringnya, di saat musang itu mau menerkanm kami.
“Terbanglah anakku....!!!” kami terbang secepat mungkin meninggalkan musang itu. Kami pun lega.
Sekarang aku mengerti yang dimaksud ibu dengan bahaya tidak disangka-sangka itu.
“Mengapa kita tidak pindah ke tempat yang lebih aman saja bu?”
“Emangnya kita mau pindah kemana, mau pindah ke luar pesantren, kalau kita pindah ke luar bisa jadi kia jadi budak para pejudi-judi merpati yang seenaknya mengadu para merpati, emangnya kamu mau diadu antara satu merpati dengan merpati yang lainnya, ingatlah disinilah tempat yang paling enak bagi kita. Lagian kita sudah tidak bisa dipisahkan dengan tempat ini” setelah kupikir-pikir ternyata perkataan ibu benar juga.
Beginilah kami bangsa merpati menjalani hidup kami, hanya dengan terbang sambil menyanyi dan menari, hinggap dari satu pohon ke pohon yang lainnya.

¤¤¤¤¤
Malam yang sunyi . seperti biasa kami menghabiskan waktu ini dengan memejamkan mata. Tak ada perasaan takut dan perasaan was-was sedikitpun di dalam jiwa kami akan kedatangan musang itu. Kami tenang-tenang saja menjalani malam ini.
“Aaaahhhhhh” aku menjerit, ternyata musang itu telah menerkamku dari belakang, secepat mungkin ibu mencakarnya. Cakar ibu tepat sekali mengenai matanya, kulihat musang itu sedikit terluka. Musang itu tak mau kalah!!!. Kulihat dia semakin marah dengan perlawanan ibu. Musang itu langsung mencengkram ibu, kali ini cengkramannya sangat kuat. Kuberusaha menolong ibu, berbagai cara telah kulakukan, namun semua itu hanya sia-sia, musang itu sangat kuat.
“Terbanglah anakku, terbanglah......, tinggalkan ibu sendirian!!”
“Ta ta tapi, bu!!!!”
“Sudahlah, keselamatanmu lebih penting nak!!!” aku terbang menjauh meninggalkan ibu yang tidak kuketahui nasibnya. Kuterus terbang tak tahu tujuan. Mudah-mudahan ibu selamat dari cengkraman musang itu.
Keesokan harinya kudatangi tempat yang paling menyeramkan dalam hidup kami. Kupandangi segala arah, ternyata ibu tidak ada, yang ada hanyalah lumuran darah dan bulu-bulu yang berterbangan karena ditiup angin.
“Semoga ini bukan darah ibu” lalu kuterbang mencari ibu dengan mengelilingi pesantren ini, kucari ibu di setiap sudut pesantren, ternyata hasilnya nihil, ibu tak kutemukan. Aku pasrah dengan kenyataan ini. Kumenangis, namun tangisku tak ada gunanya. Aku berharap ibu masih hidup, ibu masih bisa mengajariku untuk terbang tinggi ke angkasa, dan mengajariku tentang kehidupan ini . Aku masih berharap ibu masih bisa bersenda gurau denganku lagi.
Penulis; mantan Pem-red Lentera
[read more...]

Hasil RAKER IMABA SURABAYA

Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah  kami ucapkan, RAKER IMABA SURABAYA telah terlaksanakan pada selasa 7 Desember 2010 yang bertempat dibascame IMABA SURABAYA sendiri, meski pun hanya dihadiri beberapa orang saja, akan tetapi dengan semangat yang menggebu - gebu  akhirnya RAKER ini berjalan dengan lancar sesuai yang  diharapkan peserta RAKER.

hasil RAKER IMABA SURABAYA selengkapnya dapat dilihat disini http://www.4shared.com/document/i7W7Gypb/Rancangan_Program_Kerja_SBY_20.html
[read more...]

Waktu yang Mengguhajam Kita

Banyak diantara kita yang tidak konsisten terhadap waktu sehingga kita sendiri kewalahan mengghadapi hari-hari esok yang menunggu kita, hal yang paling mudah untuk memenej waktu kita dengan baik adalah dengan cara membuat scedule waktu yang kita inginkan, agar waktu kita tidak terbuang dengan sia-sia.
dan ketika kita memenej waktu kita dengan baik maka kita akan hidup disiplin, dan mungkin jika orang-orang di luar sana memenej waktunya dengan baik, tidak akan terjadi kemacetan di jalan-jalan raya,dan semacamnya.

Mungkin hanya 1 atau 2 orang dari sekian banyak orang yang konsisten terhadap waktunya meskipun mereka tidak membuat scedule waktunya,,mungkin itu hanya orang-orang tertentu yang mengharagai waktunya dengan baik, sehingga hasil yang mereka peroleh baik pula.

Kenapa sebagian orang-orang Cina itu berhasil, karena mereka itu konsiiten dan menghargai waktunya dengan baik,diantaranya,,dia menghargai waktu khalayaknya dia mengghargai dirinya, ketika dia datang terlambat ke suatu acara, maka dia menghukum dirinya dengan cara mengganti keterlambatan dirinya dengan tidak makannya pada waktu itu, maka akan dengan sendirinya dia akan hidup disiplin dan terbiasa dengan waktu yang telah di tentukannya.
[read more...]

Komunikasi Maya dan Lebay Community


Oleh: Bahauddin Amyasi

Sepertinya, ada suatu pola dan karakter tertentu yang secara konsisten mengkonstruk nalar komunikasi sebagian besar generasi digital ini, yakni makin kabur dan samar identitas seseorang yang terlibat dalam komunikasi virtual, maka semakin besar kemungkinannya untuk menimbulkan praktek komunikasi yang kurang atau malah tak bertanggungjawab. Komunikasi yang "tak bertanggung-jawab” di sini adalah komunikasi yang menggunakan kalimat yang kasar, penuh rayuan-gombal, sarat tipuan, kadang malah kalimat yang kotor dan sangat menjijikkan.

Maka saya tidak pernah kaget jika di pojok-pojok malam, saya sering mendengar "suara-suara kecil" yang seolah tertahan, hampir menyerupai desahan. Kadang dibumbui dengan sela-sela tawa, renyah, dan sepertinya menggembirakan. Ini bukan persoalan pornoaksi-pornografi yang menjadi problem menantang kaum moralis. Bukan. Ini murni proses pendekatan seorang anak muda dengan lawan jenisnya. Proses negosisasi via udara dengan strategi dan taktik yang nyaris sempurna. Semacam gaya cinta dunia maya. Dan ketika "mangsa" hampir terbuai, maka tembakan lihai pun menemukan jalannya.

Itulah gejala sosial yang saya maksud dengan komunikasi maya dan lebay communiity. Sebuah gejala yang hampir populer di era hypermodernisme ini, dan amat diminati oleh komunitas yang berkutat dengan dunia tawar-menawar "rasa", makhluk-makhluk yang sering iseng keluar masuk chatt room dan acak nomor Hand Phone. Maya, karena komunikasi yang dibangun jelas hanya ada di dunia antah berantah dan sebagian besar merupakan hasil acak nomor dan 'saling beri nomor' sesama kolega, tanpa mengetahui dengan jelas identitas 'buruan' sebenarnya. Lebay, karena jelas-jelas apa yang dijadikan topik perbincangan adalah sesuatu yang sama sekali tidak penting, sarat bualan, dan karangan kebohongan.

Logika mana yang tidak tergelitik ketika mendengar adanya seorang gadis dengan penuh perhatian, hampir tiap bulan mengirim sang "kekasih semu"-nya dengan uang ratusan ribu rupiah, padahal mereka sama sekali belum pernah ketemu? Rasio mana yang membenarkan ketika melihat seorang tante tiba-tiba dengan penuh talenta sering mentransfer pulsa untuk "kekasih kecil"-nya yang tak pernah ditemuinya? Ya, hanya logika mayalah yang membenarkannya....

Lagi-lagi saya tidak merasa heran jika sepulang dari Surabaya, berlibur ke kampung halaman, sahabat-sahabat lama tiba-tiba mengemis meminta nomor tante. Setelah saya tanya untuk apa, ya sebagai tambahan pulsa lah, jawab mereka santai dan seolah tanpa beban. Jika sudah demikian, dengan tegas saya katakan : Saya tidak punya bakat untuk menyimpan nomor tante! Dan mereka pun hanya tertawa terpingkal-pingkal. Akhirnya, karena mereka memakai kartu XL, maka salah seorang sahabatku menjulukinya dengan Xtra Lebay alias lebay yang sangat berlebihan.


# # #


Konon, kepercayaan adalah modal awal dalam jalinan komunikasi. Dan virtual world tampaknya menjadi media efektif dan paling digemari oleh manusia cyber untuk melancarkan aktualisasi sosialnya. Maka perempuan lemahlah yang acap jadi korban kelicikan seorang lelaki lebay, yang sering mengobral janji-janji manisnya, bersedia "serius" untuk sehidup semati dan segala motif kepalsuan lainnya, tetapi ketika ketemu pertama kali langsung ngacir terbirit-birit karena sang perempuan tidak sesuai dengan yang dikhayalkan. Inilah barangkali implikasi logis dari efek komunikasi maya yang tidak didasari dengan kejujuran kedua belah pihak.

Ya, dunia sepertinya telah mencapai stadium paling absurd, menyentuh titik paling nadir, penuh ironi dan paradoks yang menggelitik sekaligus membingungkan dan memiriskan. Betapa akselerasi teknologi komunikasi telah merubah tatanan tradisi menjadi penuh anomali. Teknologi telah menjelma madu dan racun. Kadang malah buah simalakama. Diturutin dan dimajna salah, tidak diikutin malah ribet. Inilah ironi mendasar teknologi dalam keseharian kita; mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Dengan orang-orang yang jauh kita jadi dekat. Kita bisa asyik chatting, ikut milis, posting-postingan komen di threads, blogwalking, facebook-an, surfer segala informasi di search engine, bahkan terkoneksi dengan orang-orang-orang lewat friendster dan facebook. Dunia jadi boarderless. Kota Paris serasa sepelemparan batu dengan Amerika.

Apa yang saya sebutkan di atas tentu akan menjadi tema menarik bagi para sarjana sosial dan komunikasi untuk dijadikan lahan riset yang menantang. Sekarang ini, dunia maya telah menjadi salah satu arena penting sosialisasi baru yang tidak bisa lagi diabaikan. Interaksi sosial melalui dunia maya tidak kalah krusial dengan interaksi langsung secara fisik melalui “kop-dar”--- meminjam istilah makhluk-makhluk milis---, kopi darat, alias bertemu langsung. Dan karena saya bukan seorang sosiolog dan pakar komunikasi, maka apa yang saya paparkan ini jelas bukan pengamatan seorang sarjana melalui tipologi dan standar metodologi penelitian yang baku, melainkan hanya riset dan observasi kacangan-amatiran. Sobat boleh tak setuju dengan pengamatan saya ini dan juga bisa mengajukan interpretasi lain.

Pada akhirnya, saya hanya bisa mengenang keheningan malam di era 90-an, dimana saya dengan leluasa mendengar dan menikmati suara jangkrik yang ritmis, bukan "suara-suara" kecil yang penuh kepalsuan. Era di mana corong-corong mushalla begitu khidmat menggemakan lantunan adzan di setiap fajar menjelang, bukan erangan tawar-menawar manusia yang mendewakan cinta di atas logika untung rugi. Ah, betapa makhluk bernama Renaissance dan Aufklarung telah membawa gelombang perubahan dahsyat yang barangkali tidak pernah terpikrikan sebelumnya...
[read more...]

Kini, “Tikus” Masuk Jatim (Lagi)

Oleh: Abd. Basid

Di bawah carut-marut dan mencuatnya berbagai kasus di Negeri ini, mulai dari fenomena sosial sampai politik. Mulai dari kasus demontrasi sampai kasus korupsi, kini Jatim (terancam) kemasukan “tikus” kantor (lagi).

Jika tahun lalu Jatim terkena kasus penyelewengan dan penyimpangan dana Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM), yang akhirnya menjebloskan ketua DPRD Jatim kala itu, Pathorrosjid ke dalam penjara, kini di Jatim ada dugaan kasus pengaliran uang (dana) ke rekening sejumlah pejabat daerah Jatim berkaitan dengan dana Bank Jatim yang cair pada periode 2004-2005 dan akhirnya terbentuklah Panitia Khusus (Pansus) kasus ini. Dugaan setoran dana ilegal dari Bank Jatim kepada para pejabat daerah ini terduga setelah pemprov Jatim hanya menerima Rp 17,7 miliar dari total yang seharusnya diterima Rp 71,4 miliar.

Selain itu juga, ada dugaan kasus penyelewengan dana hibah Pempov Jatim. Berita teranyar dugaan korupsi dana hibah Pemprov Jatim ini, diduga ada rekayasa dalam penyusunan dana hibah itu untuk agar sebagian dana itu bisa dipakai untuk kepentingan salah satu calon gubernur pada Pilkada Jatim 2008, yang mana total dana hibah untuk pilkada itu sebanyak Rp 850 miliar, yang akhirnya KPK memeriksa dua orang mantan KPU Jatim, Yayuk Wahyunengse dan Didik Prasetyono (Kompas, 30/1/10).

Tindakan KPK

Kasus di atas memang belum terbukti siapa yang terlibat dan harus bertanggung jawab dalam semua itu. Akan tetapi yang jelas di Jatim sekarang ini ada lagi ada “tikus” kantor masuk (lagi). Untuk itu, kasus ini harus segera diunghkap dan ditemukan siapa saja yang terlibat dalam semua itu. Terus, siapa yang harus bertindak tegas dan cepat untuk mengungkap semua kasus yang sedang melanda Jatim ini? DPRD (Pansus) atau KPK kah? Panitia Khusus (Pansus) yang dibentuk DPRD Jatim kini dikhawatirkan publik akan diboncengi kepentingan politik para pejabat.

Maka dari itu, KPK-lah yang harus bertindak tegas dan cepat untuk mengungkap dan menangkap kasus dugaan penyelewengan yang terjadi di Jatim ini. Meskipun demikian, KPK harus lurus. Tikus mana yang terbukti terlibat, nanti, harus ditangkap dan diadili. Tidak ada pandang bulu. Orang terdekat harus dibuang jauh-jauh. Seniorisme, familisme, temanisme dan isme-isme yang lainnya jangan dibawa-bawa—meskipun hal ini tidak mudah. Jika nanti ada Soekaarwo (Gubernur Jatim menjabat), Imam Utomo (mantan Gubernur Jatim), Yayuk Wahyunengse dan Didik Prasetyono (mantan KPU Jatim), atau siapa pun yang terbukti nanti, maka samakan mereka dengan Fathorrasjid.

KPK harus bisa bertindak seperti apa yang pernah dicontohkan oleh pemimpin umat, ahli hukum, dan hakim agung, Nabi Muhammad saw. dalam sabdanya yang artinya; “Demi Dzat yang menguasai diriku, seandainya Fatimah binti Muhammad terbukti mencuri, pasti, aku potong juga tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Seperti itu juga para nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw.. Ketika Qan’an, anak Nabi Nuh a.s., harus menerima azab karena menolak kebenaran, Nabi Nuh a.s. tidak kuasa untuk menahan ibanya dan memohonkan ampunan bagi Qan’an. “Dan Nuh a.s. berseru kepada Tuhannya sambil berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku” (QS. Hud, 11: 45).

Baru setelah Allah swt. menegurnya, “Hai Nuh a.s., sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya perbuatannya adalah perbuatan yang tidak baik” (QS. Hud, 12: 46). Nabi Nuh a.s. tersadar untuk mengalahkan rasa ibanya demi memenangkan kebenaran.

Demikian pula dengan Nabi Ibrahim a.s.. Saat Azar, ayah Nabi Ibrahim a.s., menentang kebenaran sehingga layak menanggung azab Allah swt., Nabi Ibrahim a.s. tidak mampu menyembunyikan rasa pilunya. Berkata Ibrahim a.s.; “Semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepadamu. Aku akan meminta ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku sangat baik kepadaku”” (QS. Maryam, 19: 47).

Lalu Allah swt. mengingatkan Nabi Ibrahim a.s., bahwa tidak patut bagi seorang Nabi memintakan ampunan bagi orang-orang yang menolak kebenaran; sekalipun mereka adalah keluarga atau kerabatnya. Maka, Nabi Ibrahim a.s. pun segera membuang sentimen pertalian darah tersebut dan memilih menegakkan kebenaran.

Contoh tauladan di atas sekiranya bisa menjadi contoh untuk dipraktikkan di Jatim ini dalam menegakkan keadilan—khususnya dalam kontek upaya pengungkapan dan mengadilili “tikus” yang terlibat kasus di Jatim ini.
[read more...]